KERA YANG SOMBONG

Pada suatu hari sang Raja Hutan “Singa” ditembak oleh seorang pemburu, penghuni hutan rimba jadi gelisah. Mereka tidak mempunyai Raja lagi. Selang beberapa lama seluruh penghuni hutan rimba berkumpul untuk memilih Raja yang baru.

Pertama yang dicalonkan adalah Macan Tutul, tetapi macan tutul menolak.
“Jangan, melihat manusia saja aku sudah lari tunggang langgang,” ujarnya.
“Kalau gitu Badak saja, kau kan amat kuat,” kata binatang lain.
“Tidak-tidak, penglihatanku kurang baik, aku telah menabrak pohon berkali-kali.” ujar sang Badak.
“Oh, mungkin Gajah saja yang jadi Raja, badan kau kan besar..”, ujar binatang-binatang lain.
“Aku tidak bisa berkelahi dan gerakanku amat lambat,” sahut gajah.

Binatang-binatang menjadi bingung, mereka belum menemukan raja pengganti. Ketika hendak bubar, tiba-tiba kera berteriak, “Manusia saja yang menjadi raja, ia kan yang sudah membunuh Singa”.
“Tidak mungkin,” jawab tupai.
“Coba kalian semua perhatikan aku?, aku mirip dengan manusia bukan ?, maka akulah yang cocok menjadi raja,” ujar kera.

Setelah melalui perundingan, penghuni hutan sepakat Kera menjadi raja yang baru. Setelah diangkat menjadi raja, tingkah laku Kera sama sekali tidak seperti Raja. Kerjanya hanya bermalas-malasan sambil menyantap makanan yang lezat-lezat.

Penghuni binatang menjadi kesal, terutama srigala. Srigala berpikir, “bagaimana si kera bisa menyamakan dirinya dengan manusia ya?, badannya saja yang sama, tetapi otaknya tidak”.

Srigala mendapat ide. Suatu hari, ia menghadap kera. “Tuanku, saya menemukan makanan yang amat lezat, saya yakin tuanku pasti suka. Saya akan antarkan tuan ke tempat itu,” ujar srigala. Tanpa pikir panjang, kera, si Raja yang baru pergi bersama srigala. Di tengah hutan, teronggok buah-buahan kesukaan kera. Kera yang tamak langsung menyergap buah-buahan itu. Ternyata, si kera langsung terjeblos ke dalam tanah. Makanan yang disergapnya ternyata jebakan yang dibuat manusia.
“Tolong?tolong,” teriak kera, sambil berjuang keras agar bisa keluar dari perangkap.

“Hahahaha! Tak pernah kubayangkan, seorang raja bisa berlaku bodoh, terjebak dalam perangkap yang dipasang manusia, Raja seperti kera mana bisa melindungi rakyatnya,” ujar srigala dan binatang lainnya. Tak berapa lama setelah binatang-binatang meninggalkan kera, seorang pemburu datang ke tempat itu. Melihat ada kera di dalamnya, ia langsung membawa tangkapannya ke rumah.

Pesan Moral : Perlakukanlah teman-teman kita dengan baik, janganlah sombong dan bermalas-malasan. Jika kita sombong dan memperlakukan teman-teman semena-mena, nantinya tidak akan mempunyai teman lagi.

ANAK KATAK YANG SOMBONG

Ditengah padang rumput yang sangat luas terdapat sebuah kolam yang dihuni oleh berpuluh-puluh katak. di antara katak2 tersebut ada 1 anak katak yang bernama kentus, dia adalah anak katak yang paling besar & kuat. karena kelebihannya itu, kentus menjadi sangat sombong. dia merasa kalau tidak ada anak katak lainnya yang dapat mengalahkannya.

Sebenarnya kakak kentus sering menasehati agar kentus tidak sombong pada teman-temannya. tetapi nasehat kakaknya tidak pernah dihiraukan. hal ini menyebabkan teman-temannya mulai menghindarinya hingga kentus tidak punya teman bermain lagi

Pada suatu pagi, kentus berlatih melompat di padang rumput. ketika itu juga ada seekor anak lembu yang sedang bermain disitu. sesekali anak lembu itu mendekati ibunya untuk menyedot susu. anak lembu itu gembira sekali, dia berlari-lari sambil sesekali memakan rumput yang segar. secara tidak sengaja lidah sapi anak lembu itu terkena tubuh kentus.

“huh, beraninya makhluk ini mengusikku”, kata kentus dengan marah sambil menjauhi anak lembu. sebenarnya anak lembu tidak berniat mengganggunya. kebetulan pergerakannnya sama dengan kentus sehingga menyebabkan kentus menjadi cemas dan melompat segera untuk menyelamatkan diri.

Sambil terengah-engah kentus sampai di tepi kolam. melihat kentus yang kecapaian, teman-temannya heran. “Hai kentus, mengapa kamu terengah-engah dan mukamu pucat sekali?”, tanta temannya. “Tidak apa-apa, aku hanya cemas. Lihatlah padang rumput itu. aku tidak tau makhluk apaitu, tetapi makhluk itu sangat sombong. makhluk itu hendak menelan aku”, kata kentus.

Kakaknya yang baru tiba disitu menjelaskan. “Makhluk itu anak lembu. Sepengetahuan kakak anak lembu tidak jahat. mereka biasa dilepaskan di padang rumput ini setiap hari”, kata kakaknya. “Tidak jahat? kenapa kakak bisa bilang seperti itu? saya hampir ditelannya tadi”, kata kentus. “Ah tidah mungkin. Lembu tidak makan katak atau ikan tetapi hanya makan rumput”, jelas kakaknya.

“saya tidak percaya kak, tadi aku dikejarnya dan hampir ditendangnya”, kata kentus. “wahai teman-teman, aku sebenarnya bisa melawannya dengan menggembungkan diriku”, kata kentus sombong. “lawan saja kentus! kamu pasti menang”, teriak teman-temannya.

“sudahlah kentus, kamu tidak akan dapat menandingi lembu itu. Perbuatanmu itu berbahaya, hentikan!”, kata kakak kentus berualng kali. Tetapi kentus tidak perduli nasehat kakaknya. kentus terus menggembungkan diri karena dorongan teman-temannya. Padahal sebenarnya teman-temannya ingin memberi pelajaran pada kentus yang selalu sombong.

Setelah itu kenus tiba-tiba jatuh lemas. Perutnya sakit dan perlahan-lahan dikempiskan kembali. kakak dan teman-temannya menolong kentus yang lemas kesakitan. Akhirnya kentus malu dengan sikapnya yang sombong yang merugikan dirinya sendiri.

Pesan Moral : Janganlah menjadi makhluk yang sombong dan angkuh, karena kesombongan akan mengakibatkan banyak kerugian.

KISAH KELELAWAR YANG PENGECUT

Di sebuah padang rumput di Afrika, seekor Singa sedang menyantap makanan. Tiba-tiba
seekor burung elang terbang rendah dan menyambar makanan kepunyaan Singa.
“Kurang ajar”, kata singa.

Sang Raja hutan itu sangat marah sehingga memerintahkan seluruh binatang untuk berkumpul dan menyatakan perang terhadap bangsa burung.
“Mulai sekarang segala jenis burung adalah musuh kita, usir mereka semua, jangan disisakan!” kata
Singa.
Binatang lain setuju sebab mereka merasa telah diperlakukan sama oleh bangsa burung.

Ketika malam mulai tiba, bangsa burung kembali ke sarangnya. Kesempatan itu digunakan oleh para Singa dan anak buahnya untuk menyerang. Burung-burung kocar-kacir melarikan diri. Untung masih ada burung hantu yang dapat melihat dengan jelas di malam hari sehingga mereka semua bisa lolos dari serangan singa dan anak buahnya. Melihat bangsa burung kalah, sang kelelawar merasa cemas, sehingga ia bergegas menemui sang raja hutan. Kelelawar berkata, “Sebenarnya aku termasuk bangsa tikus, walaupun aku mempunyai sayap. Maka izinkan aku untuk bergabung dengan kelompokmu. Akuu akan mempertaruhkan nyawaku untuk bertempur melawan burung-burung itu”. Tanpa berpikir panjang singa pun menyetujui kelelawar masuk dalam kelompoknya.

Malam berikutnya kelompok yang dipimpin singa kembali menyerang kelompok burung dan berhasil mengusirnya. Keesokan harinya, menjelang pagi, ketika kelompok Singa sedang istirahat kelompok burung menyerang balik mereka dengan melempari kelompok singa dengan batu dan kacang-kacangan.

“Awas hujan batu,” teriak para binatang kelompok singa sambil melarikan diri. Sang kelelawar merasa cemas dengan hal tersebut sehingga ia berpikiran untuk kembali bergabung dengan kelompok burung. Ia menemui sang raja burung yaitu burung Elang.
“Lihatlah sayapku, Aku ini seekor burung seperti kalian”.
Elang menerima kelelawar dengan senang hati.

Pertempuran berlanjut, kera-kera menunggang gajah atau badak sambil memegang busur dan anak panah. Kepala mereka dilindungi dengan topi dari tempurung kelapa agar tidak mempan dilempari batu. Setelah kelompok singa menang, apa yang dilakukan kelelawar?. Ia bolak balik berpihak kepada kelompok yang menang. Sifat pengecut dan tidak berpendirian yang dimiliki kelelawar lama kelamaan diketahui oleh kedua kelompok singa dan kelompok burung.

Mereka sadar bahwa tidak ada gunanya saling bermusuhan. Merekapun bersahabat kembali dan memutuskan untuk mengusir kelelawar dari lingkungan mereka. Kelelawar merasa sangat malu sehingga ia bersembunyi di gua-gua yang gelap. Ia baru menampakkan diri bila malam tiba dengan cara sembunyi-sembunyi.

BAJU BARU KAISAR

Pada jaman dahulu kala, ada seorang kaisar yang suka sekali berpakaian baru. Setiap jam ia selalu berganti pakaian. Semua uang negara dihamburkan untuk membeli pakaian. Pegawai-pegawai negara tidak diperhatikan. Tentara juga tidak diperhatikan. Rakyatnya tidak diperhatikan sama sekali.

Dari pagi hingga petang, kaisar hanya berpikir tentang pakaian. Dari petang hingga pagi, kaisar juga hanya berpikir tentang pakaian. Kaisar tidak pernah meninjau daerahnya. Apabila ia keluar istana, ia hanya ingin memamerkan pakaiannya. Tukang-tukang tenun dan para penjahit sangat sibuk. Sebab kaisar selalu ganti pakaian setiap jam. Jadi setiap jam harus ada pakaian baru.
Biasanya orang berkata: Raja sedang ada di istana.
Atau Raja sedang berunding dengan para menteri.
Tetapi tentang kaisar ini, orang berkata: Raja sedang berada di kamar pakaian.

Banyak orang asing datang di kota kaisar. Pada suatu hari, dua orang penipu menghadap kaisar.
Penipu ini berkata, Baginda, kami berdua ahli tenun dan ahli pakaian. Kami berdua dapat membuat pakaian ajaib. Hanya orang pandai dan orang yang menjalankan kewajibannya dengan baik, dapat melihat pakaian ajaib itu.

Kaisar percaya kepada ke dua penipu tersebut. Kaisar menyuruh segera dibuatkan pakaian ajaib. Kedua penipu diberi uang, emas dan bahan pakaian yang sangat mahal harganya.
Apabila pakaian ajaib jadi, saya dapat tahu siapa bodoh, siapa pandai. Saya dapat tahu siapa tidak menjalankan kewajibannya dengan baik. demikian pikiran kaisar.

Kedua penipu segera mulai bekerja. Mereka duduk di depan alat tenun kosong. Tangannya bergerak-gerak, seolah-olah mereka sedang menenun. Mereka bekerja giat hingga larut malam.
Setiap hari mereka meminta uang, emas dan bahan pembuat pakaian kepada kaisar. Kaisar mengabulkannya dan tidak curiga sama sekali.

Sebenarnya kaisar ingin sekali melihat kedua penipu bekerja. Tetapi ia agak takut, sebab, menurut kata penipu, hanya orang pandai dan orang yang menjalankan kewajibannya dengan baik dapat melihat pakaian ajaib.

Berita tentang pakaian ajaib tersebar ke seluruh negara dengan cepat sekali. Orang kelihatannya tak sabar menunggu pakaian selesai. Masing-masing orang ingin tahu, siapa tidak dapat melihat pakaian ajaib itu.

Masing-masing orang mengira, hanya dia sendiri dapat melihat pakaian ajaib itu.
Kaisar pun tak sabar menunggu lama. Ia segera menyuruh seorang menteri. Tentu saja yang diutus menteri yang pandai, jujur dan menjalankan kewajibannya dengan baik.
Menteri masuk ke dalam kamar, tempat kedua peninpu menenun.
Alangkah tercengangnya dia! Menteri tidak melihat apa-apa. Ia hanya melihat alat tenun kosong. Ia mulai ragu-ragu tentang dirinya.
Orang bodohkah aku ini? pikir menteri.
Apakah aku seorang menteri yang tak cakap dan tak menjalankan kewajiban dengan baik?
Menteri berdiri termangu dan tak mengucapkan kata sepatah pun.

Kedua penipu bekerja terus di udara kosong, sambil menerangkan, Bapak Menteri, kain ini akan menjadi kain terindah di dunia. Perhatikan pola-polanya. Kecuali kain terindah, juga kain termahal di dunia.
Bahkan lebih dari itu, Bapak Menteri. Kain ini sangat ajaib. Sebab orang-orang bodoh tak akan dapat melihatnya. Orang-orang yang tidak menjalankan tugasnya dengan baik, juga tidak akan dapat melihat kain ini. Bapak seorang menteri yang cakap, bukan? Bapak pasti melihat kain ajaib ini!
Menteri diam saja, sebab ia hanya melihat alat tenun kosong.

Mengapa Bapak Menteri tidak berbicara? Bagaimana pendapat Bapak tentang kain ajaib ini? tanya kedua penipu.
O, mengagumkan sekali! jawab menteri, meski pun tidak melihat seutas benang pun.
Belum pernah aku melihat kain seindah ini! Sungguh pandai anda menciptakan pola-pola paling baru! Kaisar pasti bangga dan gembira!
Kedua penipu menerangkan panjang lebar tentang benang, tentang sutera, tentang pola dan warna kain. Mereka menceritakan bagaimana cara membuat pola dan warna terindah. Menteri mendengarkan dengan penuh perhatian. Tangan menteri memegang dan meraba-raba kain, yang sebenarnya tidak ada.
Menteri takut, kalau ada orang tahu, menteri tidak dapat melihat kain ajaib.

Menteri segera kembali ke istana dan lapor kepada kaisar. Ia memuji-muji kedua penenun dan kain ajaib. Ia mengatakan bahwa kain itu sangat indah dan bagus.
Kaisar percaya dan mengangguk-anggukkan kepala. Sebentar kemudian kaisar menyuruh seorang pegawai tinggi ke tempat kedua penipu. Pegawai tinggi ini harus menyelidiki, apakah benar kata menteri.
Pegawai tinggi pergi ke tempat kedua penipu menenun. Seperti menteri, pegawai tinggi terbelalak matanya. Sebab, ia hanya melihat alat tenun kosong belaka.

Bodohkah aku ini? Apakah aku pegawai tak cakap yang tidak menjalankan tugas dengan baik? Aku harus hati-hati, jangan sampai ada orang tahu, bahwa aku tak dapat melihat kain ajaib! pikir pegawai tinggi.
Bagaimana pendapat Bapak, sangat indah bukan kain ini? tanya kedua penipu.
Benar, sangat indah dan mengagumkan! Baru sekali ini, saya melihat kain yang sungguh-sungguh ajaib! jawab pegawai tinggi.
Pegawai tinggi segera melapor kepada kaisar.
Kata pegawai tinggi, Kaisar, kain itu sungguh ajaib dan mengagumkan!

Sekarang kaisar sendiri ingin melihat kain tersebut. Kaisar memilih beberapa orang tertentu dan diajak ke tempat kedua penipu bekerja. Pegawai tinggi juga menyertai kaisar.
Alangkah terkejutnya kaisar! Ia tidak melihat kain. Jangankan kain, seutas benang pun tidak! Kaisar hanya melihat alat tenun kosong, dan kedua penipu licik menggerak-gerakkan tangannya seperti orang sedang menenun! Tapi kaisar diam saja.

Kaisar bodohkah saya ini? Tak cakapkah saya jadi kaisar? Apakah saya kaisar yang tak menjalankan tugas dengan baik? tanya kaisar di dalam hati.
Orang lain tidak boleh tahu, bahwa saya tidak dapat melihat kain ajaib. pikir kaisar.
Pengikut-pengikut kaisar saling berpandangan. Mereka sebenarnya juga tidak melihat sesuatu, kecuali alat tenun kosong.
Kedua penipu tiba-tiba berkata: Bagaimana pendapat kaisar tentang kain ini?
O, bagus sekali. Indah luar biasa! Tak kuduga sama sekali, ada kain seindah ini! Pola dan warnanya mengagumkan bukan main! Saya ingin sekali segera mencobanya. Harap segera diselesaikan. Jawab kaisar.
Bagaimana pendapat bapak-bapak? tanya kedua penipu.
Ya, ya, ya, memang, memang, memang begitulah! Benar kata kaisar. Kain itu luar biasa indahnya! jawab pengikut-pengikut kaisar.

Berita tentang kain ajaib tersebar luas di kalangan rakyat. Setiap orang, besar kecil, tua muda, laki-laki dan perempuan, semua ribut membicarakan kain ajaib. Setiap orang yakin, dapat melihat kain tersebut.
Sekarang kaisar akan mengadakan pawai besar, dengan berpakaian kain ajaib. Kaisar ingin memamerkan kain ajaib kepada rakyat. Kaisar ingin dipuji dan dikagumi. Semua orang pasti akan terpesona, melihat kaisar mengenakan pakaian paling indah di dunia. Jalan-jalan dibersihkan, diperbaiki, dan dihias. Semua orang sibuk mempersiapkan pawai besar.

Lebih sibuk lagi kedua penipu licik. Pada malam menjelang pawai besar, kamar kerjanya diterangi enam belas buah lampu. Semalam suntuk mereka bekerja. Kedua penipu, pura-pura menggunting kain dengan gunting besar. Yang digunting, tentu saja udara! Mereka pura-pura menjahit kain dengan jarum. Yang dijahit tentu saja udara!

Keesokan harinya kaisar datang ke kamar kerja penipu. Kaisar diiringkan pegawai-pegawai istana. Pakaian ajaib sudah selesai., kaisar akan segera mengenakannya.
Kami memohon, kaisar melepaskan pakaian seluruhnya. Sebab, kami akan segera mengenakan pakaian ajaib pada kaisar. kata kedua penipu.
Kaisar melepaskan semua pakaian. Sekarang kaisar hanya bercelana dalam. Kedua penipu sibuk mengenakan pakaian ajaib pada kaisar. Pakaian ajaib itu tak kelihatan! Kedua penipu pura-pura memasang baju, celana, mahkota dan selempang pada kaisar.

Kaisar, ini mantelnya. Mantel ini pola warnanya meriah sekali. Kata penipu, sambil pura-pura memasang mantel pada tubuh kaisar.
Kaisar berdiri di depan kaca besar. Ia sebenarnya sangat gelisah, sebab ia telanjang. Sedang pakaian ajaib tidak kelihatan.

Pengikut-pengikut kaisar berseru, Indah sekali! Mengagumkan! Sungguh indah pakaian itu!
Semua pengiring kaisar bersikap seolah-olah benar-benar melihat pakaian ajaib itu. Dua pengiring memegang mantel kaisar dengan bangganya. Tentu saja yang dipegang udara, sebab mantel tidak kelihatan! Empat orang memegang payung kerajaan. Kaisar berjalan di tengah dengan megahnya.
Sekarang pawai besar dimulai. Terompet dibunyikan orang dengan lantangnya. Lonceng-lonceng berdengungan menyambut pawai besar. Meriam dan senapan berdentuman memeriahkan pawai besar. Bendera berkibaran di sepanjang jalan. Polisi dan tentara dengan ketat menjaga keamanan. Orang-orang berjejal-jejal ingin meilihat kaisar berpakaian ajaib.

Kaisar berjalan kaki, supaya tampak megah dan mempesonakan.
Hanya orang pandai yang dapat melihat pakaian ajaib. Hanya orang yang menjalankan kewajibannya, yang dapat melihat pakaian kaisar, kata kedua penipu.
Kaisar berjalan dengan megahnya.
Orang-orang yang melihatnya berteriak-teriak, Mengagumkan! Hidup kaisar! Sungguh indah pakaian kaisar!

Mereka bersorak-sorak gemuruh memekikkan telinga. Tak seorang pun mau dikatakan bodoh. Tak seorang pun ingin ketahuan tak menjalankan kewajiban dengan baik.
Pawai besar berjalan terus. Semua orang memang kagum dan tercengang. Semua orang sungguh tertarik dan terpesona, melihat kaisar berpakaian ajaib.
Sebab, pakaian ajaib itu tak kelihatan oleh siapa pun juga!

Tiba-tiba pawai besar melewati seorang anak kecil.
Anak kecil itu berteriak keras kepada ayahnya, Ayah, ayah, lihat itu, kaisar tak berpakaian sama sekali! Ayah, mengapa kaisar berjalan telanjang???!
Orang-orang yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak.
Sekarang semua orang berteriak, Hidup kaisar telanjang!
Teriak dan sorak rakyat lebih hebat lagi.

Kaisar berkeringat dingin. Tapi kaisar berkata dalam hati, Itu pasti orang-orang bodoh yang tak menjalankan kewajiban dengan baik. Pawai ini harus selesai dengan berhasil.
Dan kaisar berjalan dengan lebih megah lagi. Akhirnya kaisar sadar bahwa ia kena tipu. Sejak itu ia tidak lagi tergila-gila dengan pakaian baru.

PENIUP SERULING AJAIB

Pada zaman dahulu terdapat sebuah pekan kecil yang sangat cantik terletak di kaki bukit. Pekan tersebut di kenali Hamelyn. Penduduk di pekan tersebut hidup dengan aman damai, tetapi sikap mereka tidak perihatin terhadap kebersihan. Pekan tersebut penuh dengan sampah sarap. Mereka membuang sampah di merata-rata menyebabkan pekan tersebut menjadi tempat pembiakan tikus. Semakin hari semakin banyak tikus membiak menyebabkan pekan tersebut dipebuhi oleh tikus-tikus.

Tikus-tikus berkeliaran dengan banyaknya dipekan tersebut. Setiap rumah tikus-tikus bergerak bebas tanpa perasaan takut kepada manusia. Penduduk di pekan ini cuba membela kucing untuk menghalau tikus dan ada diantara mereka memasang perangkap tetapi tidak berkesan kerana tikus terlampau banyak. Mereka sungguh susah hati dan mati akal bagaimana untuk menghapuskan tikus-tikus tersebut.

Musibah yang menimpa pekan tersebut telah tersebar luas ke pekan-pekan lain sehinggalah pada suatu hari seorang pemuda yang tidak dikenali datang ke pekan tersebut dan menawarkan khidmatnya untuk menghalau semua tikus dengan syarat penduduk pekan tersebut membayar upah atas kadar dua keping wang emas setiap orang. Penduduk di pekan tersebut berbincang sesama mereka diatas tawaran pemuda tadi. Ada diantara mereka tidak bersetuju oleh kerana mereka tidak sanggup untuk membayar upah yang sangat mahal. Setelah berbincang dengan panjang lebar akhirnya mereka bersetuju untuk membayar upah seperti yang diminta oleh pemuda itu kerana mereka tidak mempunyai pilihan lain.

Keputusan tersebut dimaklumkan kepada pemuda tadi, lalu dia mengeluarkan seruling sakti dan meniupnya. Bunyi yang keluar dari seruling itu sangat merdu dan mengasik sesiapa yang mendengarnya. Tikus-tikus yang berada dimerata tempat didalam pekan tersebut mula keluar dan berkumpul mengelilinginya. Pemuda tadi berjalan perlahan-lahan sambil meniup seruling sakti dan menuju ke sebatang sungai yang jauh dari pekan tersebut. Apabila sampai ditepi sungai pemuda tadi terus masuk kedalamnya dan diikuti oleh semua tikus.Tikus-tikus tadi tidak dapat berenang didalam sungai dan semuanya mati lemas.

Kini pekan Hamelyn telah bebas daripada serangan tikus dan penduduk bersorak dengan gembiranya. Apabila pemuda tadi menuntut janjinya, penduduk tersebut enggan membayar upah yang telah dijanjikan kerana mereka mengangap kerja yang dibuat oleh pemuda tadi tidak sepadan dengan upah yang diminta kerana hanya dengan meniupkan seruling sahaja. Pemuda tadi sangat marah lalu dia menuipkan seruling saktinya sekali lagi. Irama yang keluar dari seruling itu sangat memikat hati kanak-kanak menyebabkan semua kanak-kanak berkumpul di sekelilingnya. Satelah semua kanak-kanak berkumpul pemuda tadi berjalan sambil meniupkan seruling dan diikuti oleh semua kanak-kanak. Pemuda itu membawa kanak-kanak tersebut keluar dari pekan Hamelyn. Setelah Ibu Bapa menyedari bahawa mereka akan kehilangan anak-anak, mereka mulai merasa cemas kerana kanak-kanak telah meninggalkan mereka dan mengikuti pemuda tadi. Mereka mengejar pemuda tadi dan merayu supaya menghentikan daripada meniup seruling dan memulangkan kembali anak-anak mereka. Merka sanggup memberi semua harta benda yamg ada asalkan pemuda tersebut mengembalikan anak-anak mereka.

Rayuan penduduk tidak diendahkan oleh pemuda tadi lalu mereka membawa kanak-kanak tersebut menuju ke suatu tempat dan apabila mereka sampai disitu muncul sebuah gua dengan tiba-tiba. Pemuda tadi masuk ke dalam gua itu dan diikuti oleh kanak-kanak. Setelah semuanya masuk tiba-tiba gua tersebut ghaib dan hilang daripada pandangan penduduk pekan tersebut. Mereka tidak dapat berbuat apa-apa oleh kerana mereka telah memungkiri janji yang mereka buat. Merka menyesal diatas perbuatan mereka tetapi sudah terlambat. Sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tidak berguna.

Sehingga hari ini penduduk pekan Hamelyn tidak melupakan kesilapan yang dilalukan oleh nenek moyang mereka. Menepati janji adalah pegangan yang kuat diamalkan oleh penduduk pekan Hamelyn sehingga hari ini.

ASAL MULA RUMAH SIPUT

Dahulu kala, siput tidak membawa rumahnya kemana-mana Pertama kali siput tinggal di sarang burung yang sudah ditinggalkan induk burung di atas pohon .

Malam terasa hangat dan siang terasa sejuk karena daun-daun pohon merintangi sinar matahari yang jatuh tepat ke sarang tempat siput tinggal. Tetapi ketika musim Hujan datang, daun-daun itu tidak bisa lagi menghalangi air hujan yang jatuh,.. siput menjadi basah dan kedinginan terkena air hujan.

Kemudian siput pindah ke dalam lubang yang ada di batang pohon, Jika hari panas, siput terlindung dengan baik, bahkan jika hujan turun, siput tidak akan basah dan kedinginan. Sepertinya aku menemukan rumah yang cocok untukku, gumam siput dalam hati.

Tetapi di suatu hari yang cerah, datanglah burung pelatuk. tok..toktokburung pelatuk terus mematuk batang pohon tempat rumah siput, siput menjadi terganggu dan tidak bisa tidur,

Dengan hati jengkel, siput turun dari lubang batang pohon dan mencari tempat tinggal selanjutnya. Siput menemukan sebuah lubang di tanah, kelihatannya hangat jika malam datang, pikir siput. Siput membersihkan lubang tersebut dan memutuskan untuk tinggal di dalamnya, tetapi ketika malam datang, tikus-tikus datang menggali dari segala arah merusak rumah siput. Apa mau dikata, siput pergi meninggalkan lubang itu untuk mencari rumah baru.

Siput berjalan terus sampai di tepi pantai penuh dengan batu karang. Sela-sela batu karang dapat menjadi rumahku !!! siput bersorak senang, aku bisa berlindung dari panas matahari dan hujan, tidak aka nada burung pelatuk yang akan mematuk batu karang ini, dan tikus-tikus tidak akan mampu menggali lubang menembus ke batu ini.

Siput pun dapat beristirahat dengan tenang, tetapi ketika air laut pasang dan naik sampai ke atas batu karang, siput ikut tersapu bersama dengan ombak. Sekali lagi siput harus pergi mencari rumah baru. Ketika berjalan meninggalkan pantai, siput menemukan sebuah cangkang kosong, bentuknya cantik dan sangat ringan.

Karena lelah dan kedinginan, Siput masuk ke dalam cangkang itu , merasa hangat dan nyaman lalu tidur bergelung di dalamnya.

Ketika pagi datang, Siput menyadari telah menemukan rumah yang terbaik baginya. Cangkang ini sangat cocok untuknya. Aku tidak perlu lagi cepat-cepat pulang jika hujan turun, aku tidak akan kepanasan lagi, tidak ada yang akan menggangguku. Aku akan membawa rumah ini bersamaku ke manapun aku pergi.

KISAH MONYET YANG RAKUS

Bermula dari seekor monyet yang terkenal licik dan sangat rakus. Sehingga banyak hewan hutan lainnya yang sangat terganggu akan sifat dari si monyet yang sering mengganggu dan membuat onar. Apabila ada hewan lain yang sedang memakan santapannya, si monyet langsung merebut dan mengambil makanan hewan lain tersebut. Si monyet juga terkenal licik, tak jarang hewan lain yang tertipu akibat akal bulus si monyet.

Pada suatu hari datanglah seorang pemburu yang masuk hutan untuk mencari seekor monyet untuk diburu dan dibawa pulang. “Hari ini aku harus bisa pulang membawa seekor monyet dan aku akan bawa pulang”, Si pemburu berkhayal akan buruannya.

Setelah memasang perangkap untuk menjebak monyet, si pemburu kemudian bersembunyi dibalik pohon dan mengamati perangkapnya dari kejauhan sambil bersantai-santai. Setelah beberapa ia menunggu akhirnya datanglah seekor kura-kura yang berjalan lambat melewati perangkap tersebut.

“Hmm..banyak sekali makanan disini”, kura-kura melihat ada banyak makanan yang tersedia di jalan yang dilewatinya. Namun ia tak sadar bahwa ada tali yang sudah menjerat kakinya. “Oh gawat ternyata ini adalah jebakan”, si kura-kura hanya terdiam menyesali kalau ia sudah masuk perangkap si pemburu.

Tak lama kemudian datanglah monyet menghampiri si kura-kura tersebut. “Hai, kura-kura kau sedang pesta besar yah?”, ternyata si monyet mengira kalau si kura-kura sedang pesta makanan. Melihat si monyet datang, si kura-kura sangat senang, berharap ia bisa bebas dari perangkap.

“Hai monyet, senang aku melihat kau datang, mari bergabung dengan ku.” Ajak si kura-kura. Monyet yang melihat makanan yang berlimpah langsung turun dari pohon. “Tapi monyet…sebelum kau berpesta, ijinkan aku untuk mengambil minuman yang segar untuk mu, aku lupa membawakannya untuk mu”, kata si kura-kura.”sebelumnya bisakah kau melepaskan tali ini?”. 

Mendengar si kura-kura akan membawakan minuman segar, monyet meng-iyakan permintaan kura-kura, dan ia pun melepaskan tali tersebut. “Sekarang kau ikat tali ini agar, makanan-makanan ini tidak diambil oleh hewan lain”. Kata si kura-kura. Memang dasar monyet sangat rakus, ia pun segera mengikat kedua kakinya dengan tali jebakan itu, berharap tidak ada hewan lain yang mengambil makanan yang ada dihadapannya.

Akhirnya si kura-kura lepas dan bebas dari perangkap tersebut, tinggalah si monyetyang sedang memakan dengan lahap semua makanan yang ada di perangkap tersebut.

Akhirnya si pemburu melihat ada monyet yang sudah berada di dalam jebakannya. maka dengan mudahnya si monyet tertangkap dan dan dibawa pulang oleh si pemburu tadi.

Hikmah dongeng anak indonesia kali ini, janganlah kita menjadi rakus dan tamak, sebab dengan ketamakan akan membawa kita kepada jurang kehancuran. Bersikaplah adil dan jujur kepada kehidupan ini, maka kita akan selamat dan bahagia.